Opini

Hafal Hari Ini, Ingat Bulan Depan: Cara Menguasai Mufradat Berdasarkan Riset

Banyak pembelajar bahasa Arab pernah menghafal puluhan mufradat untuk ujian, lalu mendapati sebagian besar hilang beberapa minggu kemudian. Masalahnya sering bukan pada kurangnya usaha, melainkan pada cara belajar yang kurang sesuai dengan cara kerja ingatan. Tulisan ini merangkum beberapa temuan riset tentang belajar kosakata dan menerjemahkannya menjadi langkah praktis untuk mahasiswa PBA.

Seberapa banyak kosakata yang dibutuhkan

Jumlah kosakata menentukan seberapa nyaman seseorang membaca teks asli. Laufer dan Ravenhorst-Kalovski (2010) meneliti hubungan antara cakupan kosakata dalam teks dan pemahaman bacaan. Cakupan kosakata adalah persentase kata dalam sebuah teks yang sudah dikenal pembaca. Mereka mengusulkan dua ambang, yaitu ambang minimal sekitar 4.000 sampai 5.000 rumpun kata yang memberi cakupan 95 persen, serta ambang optimal sekitar 8.000 rumpun kata yang memberi cakupan 98 persen. Sebagai gambaran, cakupan 98 persen berarti hanya ada sekitar satu kata asing dalam setiap 50 kata. Penelitian itu dilakukan pada pembelajar bahasa Inggris, sehingga angkanya tidak bisa dipindahkan begitu saja ke bahasa Arab yang sistem pembentukan katanya berbeda. Pesannya tetap jelas, yaitu kosakata perlu dibangun secara bertahap dan terus-menerus sepanjang masa kuliah, tidak dikebut menjelang ujian.

Mengenal kata lebih dari sekadar artinya

Menguasai sebuah kata tidak cukup dengan mengetahui padanannya dalam bahasa Indonesia. Nation (2019) menjelaskan bahwa mengetahui kata mencakup sedikitnya sembilan aspek yang terbagi dalam tiga kelompok, yaitu bentuk, makna, dan penggunaan, dan setiap aspek memiliki sisi reseptif serta produktif. Pengetahuan reseptif berarti mampu mengenali dan memahami kata saat mendengar atau membaca, sedangkan pengetahuan produktif berarti mampu memakainya sendiri saat berbicara atau menulis. Ambil contoh kata قَرَأَ. Seorang mahasiswa mungkin langsung paham artinya saat membaca, tetapi belum tentu tahu bahwa kata ini lazim dipakai bersama كِتَابًا atau الْقُرْآنَ, atau belum terbiasa mengucapkannya dengan hamzah yang jelas. Karena itu, kartu hafalan yang hanya berisi pasangan kata Arab dan artinya baru melatih sebagian kecil dari pengetahuan sebuah kata.

Manfaatkan akar dan pola kata

Bahasa Arab menyediakan jalan pintas yang tidak dimiliki banyak bahasa lain. Kata dalam bahasa Arab umumnya dibentuk dengan memetakan akar konsonan ke dalam pola vokal tertentu (Aljasser, 2026), dan pola itu dalam pembelajaran bahasa Arab dikenal sebagai wazan. Akar ك ت ب, misalnya, menurunkan banyak kata yang maknanya berkaitan dengan tulis-menulis (LibreTexts, t.t.). Akar itu muncul dalam كَتَبَ yang berarti menulis, كَاتِب yang berarti penulis, كِتَاب yang berarti buku, مَكْتَب yang berarti meja kerja atau kantor, dan مَكْتَبَة yang berarti perpustakaan atau toko buku. Aljasser (2026) menemukan bahwa 38 pembelajar bahasa Arab asal Indonesia, sama seperti 38 penutur asli, peka terhadap keberadaan akar ketika menilai kata buatan yang diperdengarkan kepada mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajar Indonesia mampu menangkap pola akar, walaupun penelitian tersebut belum menguji apakah pengajaran berbasis akar membuat kosakata lebih cepat dikuasai. Kebiasaan mengelompokkan mufradat baru menurut akarnya tetap layak dicoba, karena setiap kata baru tidak lagi berdiri sendiri, tetapi bersandar pada kata yang sudah dikenal.

Uji diri, jangan hanya membaca ulang

Mengingat kembali tanpa melihat jawaban adalah latihan yang sangat kuat. Karpicke dan Roediger (2008) meminta mahasiswa mempelajari 40 pasang kata bahasa Swahili dan bahasa Inggris, lalu membandingkan beberapa cara berlatih. Seminggu kemudian, mahasiswa yang terus diuji mampu mengingat sekitar 80 persen pasangan kata, sedangkan mahasiswa yang berhenti diuji setelah sekali benar hanya mengingat 36 persen dan 33 persen. Sebaliknya, terus mempelajari ulang kata yang sudah dihafal hampir tidak menambah daya ingat jangka panjang. Dalam praktik, tutuplah arti kata pada kartu mufradat, ucapkan atau tulis jawabannya lebih dulu, lalu periksa. Cara ini terasa lebih berat daripada membaca daftar kata berulang-ulang, tetapi justru usaha mengingat itulah yang memperkuat ingatan.

Beri jarak antarulangan

Mengulang dengan jeda lebih efektif daripada mengulang sekaligus dalam satu malam. Cepeda dkk. (2006) menggabungkan 839 pengukuran dari 317 eksperimen dan menemukan bahwa jarak ulangan yang paling baik makin panjang ketika materi perlu diingat lebih lama. Khusus untuk pembelajaran bahasa kedua, meta-analisis Kim dan Webb (2022) atas 48 eksperimen dengan 3.411 peserta melaporkan bahwa latihan berjarak memberi pengaruh sedang hingga besar. Mereka juga menemukan bahwa jarak yang lebih panjang lebih unggul pada tes yang ditunda, sedangkan jarak yang tetap dan jarak yang makin melebar sama efektifnya. Artinya, mahasiswa tidak perlu terpaku pada jadwal ulangan yang rumit. Yang penting, kata yang sama dijumpai kembali pada hari yang berbeda, misalnya hari pertama, hari ketiga, seminggu kemudian, lalu sebulan kemudian.

Pakai kata dalam konteks yang bermakna

Kata yang dihafal perlu segera dipakai agar benar-benar menjadi milik kita. Nation (2019) menyebut bahwa kosakata berkembang melalui masukan yang bermakna seperti membaca dan menyimak, keluaran yang bermakna seperti berbicara dan menulis, latihan kelancaran, serta belajar dan mengajar secara sengaja, dan keempatnya sebaiknya seimbang. Ia juga menekankan dua syarat belajar kosakata, yaitu pengulangan dan kedalaman pengolahan. Contohnya, setelah menghafal sepuluh kata bertema kesehatan, mahasiswa dapat membaca satu artikel pendek berbahasa Arab tentang kesehatan, menandai kata yang sudah dikenal, lalu menulis lima kalimat tentang kebiasaan sehatnya sendiri dengan kata-kata itu. Menghafal dan memakai saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Rencana sederhana yang bisa dimulai hari ini

Semua temuan di atas dapat dirangkai menjadi kebiasaan harian yang ringan. Siapkan kartu atau aplikasi kartu kosakata, lalu tulis kata Arab berharakat di satu sisi serta arti, akar, dan satu contoh kalimat di sisi lain. Setiap hari, tambahkan beberapa kata baru dan uji diri pada kata lama yang sudah jatuh tempo, sesuai temuan Karpicke dan Roediger (2008) tentang latihan mengingat kembali dan temuan Kim dan Webb (2022) tentang latihan berjarak. Setiap pekan, pakai kata-kata itu dalam percakapan atau tulisan pendek. Jumlah kata per hari bisa disesuaikan, karena konsistensi selama berbulan-bulan lebih menentukan daripada jumlah besar dalam satu malam.

Penutup

Menguasai mufradat bukan soal bakat menghafal, melainkan soal cara berlatih. Riset yang dirujuk di atas menunjukkan bahwa latihan mengingat kembali dan pengulangan berjarak membantu ingatan jangka panjang, sedangkan pengelompokan menurut akar dan pemakaian dalam konteks memperkaya pengetahuan tentang setiap kata. Sebagian besar bukti itu berasal dari pembelajar bahasa selain Arab, sehingga penelitian serupa pada mahasiswa PBA masih terbuka lebar untuk dikerjakan.

Keterkaitan SDGs:
SDGs 4 - Quality Education
Bagikan Artikel:
Info Prodi Assistant
👋 Halo! Saya asisten info Program Studi. Silakan tanya seputar:
• Informasi pendaftaran
• Kurikulum & mata kuliah
• Profil dosen
• Kegiatan & agenda
• Kontak prodi
Aksesibilitas