Opini

Fusha atau 'Ammiyah: Ragam Mana yang Perlu Dipelajari Mahasiswa PBA

Sebagian mahasiswa PBA mungkin pernah mengalami kejutan seperti ini. Setelah bertahun-tahun belajar bahasa Arab di madrasah dan kampus, mereka menonton film Mesir atau mengobrol dengan penutur asli, lalu mendapati banyak ucapan yang terdengar asing. Kejutan itu bukan tanda gagal belajar, melainkan akibat dari kenyataan bahwa bahasa Arab hidup dalam dua ragam. Tulisan ini menjelaskan perbedaan keduanya, menimbang pendapat para ahli, lalu menawarkan pilihan yang masuk akal bagi mahasiswa PBA.

Dua ragam dalam satu bahasa

Bahasa Arab adalah contoh klasik dari apa yang disebut diglosia. Diglosia adalah keadaan ketika satu masyarakat memakai dua ragam bahasa yang sama-sama hidup, tetapi untuk fungsi yang berbeda. Ferguson (1959) menjadikan bahasa Arab salah satu dari empat contoh utama gejala ini, dengan ragam tinggi yang dipelajari melalui pendidikan formal dan dipakai dalam tulisan serta acara resmi, dan ragam rendah berupa dialek daerah yang diperoleh secara alami dan dipakai dalam percakapan sehari-hari. Dalam pembelajaran bahasa Arab, ragam tinggi itu dikenal sebagai fusha, sedangkan ragam percakapan disebut 'ammiyah. Contohnya, kata tanya "apa" dalam fusha adalah مَاذَا, sementara dalam dialek Mesir dipakai إِيه, seperti dalam pertanyaan بِتَاكُل إِيه yang berarti sedang makan apa (ArabicPod101, t.t.). Perbedaan semacam ini muncul di banyak kata dan struktur, sehingga penguasaan satu ragam tidak otomatis membuat seseorang lancar dalam ragam lainnya.

Mengapa fusha tetap menjadi fondasi

Bagi mahasiswa PBA di Indonesia, fusha bukan pilihan, melainkan kebutuhan pokok. Profil lulusan prodi menempatkan guru bahasa Arab di sekolah dasar dan menengah serta penerjemah teks pendidikan, kebahasaan, dan keagamaan sebagai peran utama lulusan (Prodi PBA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, 2025). Kurikulum bahasa Arab di madrasah, tempat sebagian besar lulusan akan mengajar, juga bertumpu pada fusha, dan Urwati dkk. (2026) mencatat bahwa kurikulum bahasa Arab sebagai bahasa asing di Indonesia umumnya berpusat pada fusha dan berorientasi struktural. Fusha pula yang dipakai dalam teks keagamaan, buku ilmiah, media resmi, dan dokumen lembaga internasional. Dengan demikian, fusha adalah pintu utama bagi pekerjaan yang paling mungkin dijalani lulusan PBA.

Mengapa 'ammiyah tidak bisa diabaikan

Meski begitu, fusha saja sering tidak cukup untuk berkomunikasi dengan penutur asli dalam keseharian. Ferguson (1959) menunjukkan bahwa ragam rendah adalah bahasa percakapan sehari-hari yang diperoleh penuturnya sejak kecil. Urwati dkk. (2026) menyimpulkan dari kajian pustaka bahwa kurikulum yang hanya berpusat pada fusha menimbulkan kesenjangan antara kompetensi pembelajar dan cara penutur asli berkomunikasi, karena penutur asli lebih banyak memakai 'ammiyah dalam interaksi harian. Kesenjangan ini terasa ketika mahasiswa mengikuti program ke luar negeri, menerima tamu dari negara Arab, atau menonton tayangan populer berbahasa Arab. Contohnya, mahasiswa yang lancar membaca kitab bisa kebingungan saat penjual di pasar Kairo menyebut harga dalam dialek setempat. Bagi mahasiswa yang menargetkan studi lanjut, pekerjaan di negara Arab, atau profesi pemandu, kemampuan memahami 'ammiyah menjadi nilai tambah yang nyata.

Pendekatan terpadu: belajar keduanya sesuai fungsinya

Sejumlah ahli pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing menawarkan jalan tengah yang disebut pendekatan terpadu. Pendekatan ini mengajarkan fusha dan satu dialek dalam rangkaian kuliah yang sama, masing-masing dipakai sesuai fungsinya. Younes (2015) berargumen bahwa mengajarkan fusha dan 'ammiyah secara bersamaan, sebagaimana penutur asli memakainya, adalah cara yang paling logis dan efektif. Buku suntingan Al-Batal (2017) mengumpulkan pengalaman berbagai program yang telah memadukan dialek ke dalam kurikulum, sebagian besar di Amerika Serikat, beserta data tentang model kurikulum, hasil belajar, dan sikap mahasiswa serta pengajar. Kedua karya itu ditulis oleh para pengembang dan pendukung pendekatan terpadu, sehingga klaim keunggulannya perlu ditimbang bersama data pembelajar yang lebih langsung. Bukti empiris dari pendekatan ini antara lain datang dari Nassif (2021), yang meneliti 51 pembelajar bahasa Arab selama tiga tahun dalam program terpadu. Ia menemukan bahwa para pembelajar secara konsisten beralih antara fusha dan 'ammiyah sesuai norma penutur asli, yaitu fusha untuk hal yang lebih formal dan 'ammiyah untuk hal yang lebih personal, dan ragam fungsi peralihan itu makin luas seiring naiknya kemampuan mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa belajar dua ragam sekaligus tidak serta-merta membingungkan pembelajar, walaupun konteksnya adalah universitas Amerika dengan tujuan belajar yang mungkin berbeda dari mahasiswa PBA.

Jadi, mana yang perlu dipelajari?

Jawaban yang paling jujur adalah keduanya, dengan porsi yang mengikuti tujuan. Mahasiswa PBA sebaiknya menjadikan fusha sebagai fondasi yang kokoh, karena di situlah tuntutan profesi guru dan penerjemah berada. Di atas fondasi itu, mengenal setidaknya satu dialek besar secara reseptif, yakni mampu memahami saat mendengar walaupun belum lancar mengucapkannya, akan membuat bahasa Arab terasa lebih hidup dan berguna. Pilihan dialek dapat disesuaikan dengan rencana masing-masing, misalnya dialek negara tujuan studi lanjut atau negara asal mitra program luar negeri. Caranya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menonton tayangan berbahasa Arab dengan teks fusha, mencatat perbedaan kata yang sering muncul, lalu membandingkannya dengan padanan fusha yang sudah dikenal. Yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa salah satu ragam lebih rendah martabatnya, karena keduanya adalah bagian sah dari bahasa Arab yang dipakai jutaan orang.

Penutup

Perdebatan fusha atau 'ammiyah tidak perlu berakhir dengan memilih salah satu. Fusha membuka pintu teks, ilmu, dan profesi, sedangkan 'ammiyah membuka pintu percakapan dan budaya sehari-hari. Bukti tentang pendekatan terpadu sebagian besar masih berasal dari luar Indonesia, sehingga penelitian tentang cara terbaik memperkenalkan 'ammiyah kepada mahasiswa PBA di Indonesia masih terbuka untuk dikerjakan.

Keterkaitan SDGs:
SDGs 4 - Quality Education
Bagikan Artikel:
Info Prodi Assistant
👋 Halo! Saya asisten info Program Studi. Silakan tanya seputar:
• Informasi pendaftaran
• Kurikulum & mata kuliah
• Profil dosen
• Kegiatan & agenda
• Kontak prodi
Aksesibilitas